Rencana Prabowo Subianto Tingkatkan Rasio Utang Hingga 50%

by
Prabowo Subianto

olympic.or.id – Kabar mengenai presiden terpilih, Prabowo Subianto, yang berencana meningkatkan rasio utang hingga 50% terhadap produk domestik bruto (PDB) kembali mencuat. Informasi ini diungkapkan oleh adik kandungnya, Hashim Djojohadikusumo. Menurut Hashim, peningkatan rasio utang tersebut akan diiringi dengan peningkatan penerimaan negara. Kebijakan ini bertujuan untuk mendanai program ambisius Prabowo, salah satunya adalah penyediaan makanan bergizi gratis.

” Baca Juga: Penjaringan Calon Pilgub Jawa Barat oleh PDIP “

Perspektif Hashim Djojohadikusumo

Dalam wawancaranya dengan Financial Times di London, Hashim mengungkapkan bahwa ide tersebut bertujuan untuk meningkatkan pendapatan sekaligus tingkat utang. Ia menyatakan telah berbicara dengan Bank Dunia yang menganggap bahwa rasio utang sebesar 50% adalah tindakan yang bijaksana. Jika rencana ini terealisasi, rasio utang akan meningkat dari posisi saat ini yang sebesar 38,64%, mendekati batas aman 60% sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Pendekatan Terpadu untuk Peningkatan Pendapatan

Hashim menegaskan bahwa Prabowo Subianto bersama wakil presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka, tidak akan menjalankan kebijakan ini tanpa terlebih dahulu meningkatkan penerimaan negara. Peningkatan penerimaan tersebut diharapkan berasal dari pajak, cukai, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dividen, royalti, dan sumber lainnya. Menurut Hashim, mereka tidak ingin menaikkan tingkat utang tanpa ada peningkatan pendapatan yang memadai.

Tantangan dan Potensi Dampak Ekonomi

Hashim, yang merupakan salah satu penasihat terdekat Prabowo. Diperkirakan akan memainkan peran berpengaruh ketika pemerintahan baru mulai menjabat pada Oktober 2024. Hashim sendiri adalah pengusaha ternama di Indonesia yang mengepalai Grup Arsari, yang fokus di bidang pertambangan, pertanian, dan komoditas.

Baca Juga :   Relawan Jokowi Sindir PDIP soal Keterlibatan Keluarga di Politik

Namun, para ekonom telah memperingatkan bahwa peningkatan rasio utang hingga 50% dapat mendorong defisit anggaran melampaui batas maksimum 3% dari PDB. Hal ini juga dapat membebani rupiah yang telah melemah lebih dari 5% terhadap dolar AS tahun ini.

Langkah-Langkah Strategis Pemerintah Baru

Prabowo berencana membentuk Badan Penerimaan Negara (BPN) untuk meningkatkan pengumpulan pajak, meskipun langkah ini dianggap tidak mudah oleh para ekonom. Selain itu, pemerintah baru juga mempertimbangkan untuk memotong subsidi dan menjual aset negara guna meningkatkan pendapatan.

” Baca Juga: Optimisme PDIP dalam Pilgub Sumut: Semut Melawan Gajah “

Dengan berbagai tantangan yang ada, pemerintahan Prabowo diharapkan mampu menjalankan kebijakan peningkatan rasio utang dengan bijaksana, disertai dengan langkah-langkah strategis yang dapat meningkatkan penerimaan negara dan menjaga stabilitas ekonomi.

No More Posts Available.

No more pages to load.