Pandangan MUI tentang Bantuan Sosial untuk Pelaku Judi Online

by
MUI

olympic.or.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa wacana pemberian bantuan sosial (bansos) kepada pelaku judi online yang jatuh miskin tidak diperlukan karena mereka dianggap bukan korban. Menurut Ketua Bidang Fatwa MUI, Prof. Asrorun Niam Sholeh, berjudi adalah pilihan hidup pelakunya, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai korban. Niam menjelaskan bahwa dalam kasus judi online, pelaku secara sadar memilih untuk mempertaruhkan uangnya. Meskipun mereka mengetahui bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan norma agama.

” Baca Juga: Panggilan Solidaritas Ma’ruf Amin pada Idul Adha 1445 Hijriah “

Perbandingan dengan Kasus Pinjaman Online

MUI membandingkan situasi pelaku judi online dengan mereka yang terjerat pinjaman online (pinjol). Dalam kasus pinjol, ada sejumlah penyedia layanan yang bertindak curang sehingga menipu dan menimbulkan korban di kalangan penggunanya. Sebaliknya, dalam kasus judi online, pelaku dengan sadar mengambil risiko dan memutuskan untuk berjudi. Oleh karena itu, menurut Niam, tidak tepat jika mereka diprioritaskan untuk menerima bantuan sosial. Dia menegaskan bahwa ada kelompok masyarakat lain yang lebih layak dibantu, seperti orang-orang yang berusaha keras untuk hidup. Tetapi tetap kesulitan karena faktor struktural.

Kritik Terhadap Usulan Bantuan Sosial untuk Pelaku Judi Online

Niam mengkritik wacana pemberian bansos kepada pelaku judi online yang jatuh miskin. Menurutnya, bantuan sosial seharusnya diprioritaskan untuk orang-orang yang berjuang mempertahankan hidup mereka dan bukan untuk mereka yang memilih berjudi. Niam menekankan pentingnya memprioritaskan alokasi dana bansos untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Seperti orang yang berusaha belajar dan bekerja keras tetapi masih kekurangan karena masalah struktural.

Baca Juga :   Tersangka Kasus Pencabulan Oleh Pimpinan Pondok Pesantren

Sikap Pemerintah terhadap Korban Judi Online

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa masyarakat yang hartanya terkuras akibat judi online berpotensi menjadi warga miskin baru. Menurut Muhadjir, judi online memiliki dampak yang sangat merusak, menyebabkan kemiskinan dan kecanduan di kalangan masyarakat. Muhadjir menyarankan agar Kementerian Sosial (Kemensos) melakukan pembinaan terhadap korban judi online yang mengalami gangguan psikososial.

Upaya Pemerintah dalam Menangani Dampak Judi Online

Muhadjir juga menyebutkan bahwa pemerintah membuka peluang untuk memasukkan korban judi online ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar mereka dapat menerima bantuan sosial. Pemerintah telah banyak melakukan advokasi untuk korban judi online, termasuk memasukkan mereka ke dalam DTKS sebagai penerima bansos. Muhadjir menyoroti bahwa korban judi online tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah, tetapi juga dari kalangan intelektual dan perguruan tinggi, menunjukkan betapa mengkhawatirkannya masalah judi online di Indonesia.

” Baca Juga: Jokowi Akan Salat Idul Adha di Semarang, Ketua KPU Jadi Khatib “

Maraknya Judi Online dan Dampaknya pada Masyarakat

Menurut Muhadjir, maraknya judi online dapat berkaitan dengan kesenjangan sosial dan ekonomi di masyarakat. Dia mencontohkan kasus polwan yang membakar suaminya sebagai bukti bahwa masalah judi online tidak hanya berdampak pada masyarakat bawah tetapi juga masyarakat atas. Muhadjir menyatakan bahwa bahaya judi online sangat mengkhawatirkan karena korbannya berasal dari berbagai segmen masyarakat, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas, termasuk intelektual dan perguruan tinggi.

No More Posts Available.

No more pages to load.