| Berita olahraga | Kembali ke daftar |
12/03/2010Kita Tertinggal dalam Pemahaman Olympism |
|
|
Semarang, Kompas - Di bandingkan dengan negara yang sudah maju dalam pembangunan olahraga, kita masih tertinggal dalam pemahaman olympism atau nilai-nilai luhur olimpiade yang intinya berupa perdamaian, moralitas, dan kejujuran. Problem inilah yang bisa menerangkan, mengapa Indonesia cenderung tertinggal oleh negara lain, bahkan di lingkungan terdekat Asia Tenggara, selain sejumlah masalah lain yang sangat kompleks yang harus segera diselesaikan secara simultan. Oleh karena itu, untuk memajukan dunia olahraga Indonesia, agar bisa mengangkat citra dan martabat bangsa di tengah pergaulan internasional, diperlukan kerja sama lebih padu dari semua unsur, terutama pemerintah, dunia pendidikan, swasta, dan juga pers untuk mengampanyekan gerakan olimpiade dan olympism ke seluruh lapisan masyarakat. Jalan yang bisa ditempuh, misalnya, rajin mengunjungi pelosok dan tempat-tempat strategis, tidak hanya untuk fokus mencari atlet-atlet yang berpotensi meraih medali, tetapi juga memerhatikan orang-orang yang ada di balik kesuksesan atlet. "Paham dan nilai-nilai luhur olimpiade, seperti moral, kejujuran, dan sportivitas, sudah lama ditinggalkan sehingga Indonesia semakin tertinggal dalam prestasi olahraga dibandingkan dengan negara lain," ujar Rita Subowo, Kamis (11/3) di Semarang, Jawa Tengah, seusai menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Negeri Semarang. Jasa-jasa Rita Subowo, Ketua Umum KONI dan KOI, menerima gelar kehormatan tersebut berkat jasa-jasanya memajukan dunia olahraga Indonesia melalui aktivitasnya yang tidak pernah berhenti mengurusi olahraga sejak 1987. Menurut Rektor Universitas Negeri Semarang Prof DR Sudijono Sastroatmodjo, MSi, peran Rita Subowo dalam memajukan dunia olahraga Indonesia sudah sangat teruji dan diakui, bukan saja oleh lingkungan nasional, tetapi juga internasional. "Tokoh-tokoh olahraga nasional pun sangat respek dan mengakui peran Ibu Rita Subowo membangun olahraga. Jika mereka dan dunia internasional memberi pengakuan, masak Universitas Negeri Semarang tidak?" ujar Prof Sudijono. Gelar doktor kehormatan Rita Subowo dipromotori oleh Prof DR Maman Rachman, MSc, Prof DR Husein Argasasmita, MA, dan Prof DR Tandiyo Rahayu, MPd. Rita juga mendapat rekomendasi dari Agum Gumelar, tokoh olahraga nasional yang pernah menjabat Ketua Umum KONI Pusat serta Ketua Umum PSSI. Rekomendasi juga datang dari Jenderal Polisi (Purn) Sutanto, yang kini menjabat Ketua Umum PB PBVSI. Dalam orasi ilmiahnya di depan senat Universitas Negeri Semarang, Rita memaparkan pandangannya dalam karya tulis bertajuk "Peningkatan Peran Aktif KONI dalam Gerakan Olimpiade sebagai Upaya Strategis untuk Mencapai Prestasi Olahraga Indonesia di Tingkat Dunia". Menurut Rita, pemahaman gerakan olimpiade dan olympism di Indonesia menjadi sangat penting karena negara ini punya segalanya untuk maju dalam bidang olahraga. Namun, karena pengelolaannya belum optimal, bakat yang begitu banyak tersebar di seluruh pelosok Tanah Air tidak tergarap dan menjadi sia-sia. "Kondisi keolahragaan Indonesia juga belum kondusif dengan organisasi pelaksana yang belum profesional. Ada juga problem makin surutnya minat generasi muda terhadap bidang olahraga," ujar Rita yang juga merupakan anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) sejak 2007. Jadi, lanjut perempuan bernama lengkap Rita Sri Wahyusih Subowo itu, Indonesia segera memerlukan desain besar pembangunan olahraga. Pemerintah sebagai pengemban tertinggi Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional harus segera membuat desain tersebut untuk menjadi acuan. (JOY/ILO) Sumber: Kompas Cetak, Jumat 12 Maret 2010 |
|